HASIL PENGAMATAN

Tabel Pengamatan Penghitungan Severitas Penyakit Bercak Cercospora pada Kacang Tanah

Tanaman ke- Pengamatan Kerusakan Penyakit
Gandum Belang (KcTanah) Bercak (KcTanah) Kerdil (Cabai)
% skor % skor % skor % skor
1 49 5 + 20 3 +
2 50 5 + 57 5 +
3 47 5 + 40 4 +
4 53 5 + 35 4 +
5 35 4 + 0 0 +
6 0 0 + 76 6 +
7 0 0 + 15 3 +
8 25 3 + 20 3 +
9 4 1 + 52 5 +
10 30 4 + 30 4 +
11 0 0 + 17 3 +
12 57 5 + 28 4 +
13 7 2 + 10 2 +
14 40 4 + 43 5 +
15 30 4 + 45 5 +
16 4 1 + 50 5 +
17 25 3 + 65 5 +
18 15 3 + 65 5 +
19 25 3 + 48 5 +
20 20 3 + 52 5 +
21 30 4 + 62 5 +
22 10 2 + 60 5 +
23 10 2 + 25 3 +
24 40 4 + 50 5 +
25 40 4 + 35 4 +

Penghitungan Kejadian Penyakit

1. Belang (KcTanah)                                                   2. Kerdil (Cabai)

Rumus = (n:N)100%                                                   Rumus = (n:N)100%

= (25:25)100%                                                            = (25:25)100%

= 100%                                                                        = 100%

*Keterangan :  n  = jumlah tanaman terserang

N = jumlah tanaman keseluruhan

Penghitungan Keparahan Penyakit

1. Gandum

Rumus =  (∑n x v)  x 100%

(N x V)

=  [(3 x 0) + (2 x 1) + (3 x 2) + (5 x 3) + (7 x 4) + (5 x 5) + (0 x 6)] x 100%

25 x 6

=   76  x 100%

150

= 50,67%

2. Bercak (KcTanah)

Rumus =  (∑n x v)  x 100%

(N x V)

=  [(1 x 0) + (0 x 1) + (1 x 2) + (5 x 3) + (5 x 4) + (12 x 5) + (1 x 6)] x 100%

25 x 6

=  103  x 100%

150

= 68,67%

*Keterangan :  n  = Jumlah tanaman terserang penyakit

N = Jumlah tanaman keseluruhan

v  = Skor penyakit

V = Skor tertinggi (6)

ILMU PENYAKIT TUMBUHAN DASAR

DISEASE NOTEBOOK

PENYAKIT PADA TUMBUHAN MELON

Disusun oleh:

  1. 1. Umi Sallamatul Isniah                      A34080060
  2. 2. Ushwanuuri Rachmadhani L.         A34080063
  3. 3. Nia Trikusuma                                  A34080064
  4. 4. Rado Puji Santoso                             A34080066

Dosen pengajar:

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2010

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman buah yang termasuk ke dalam famili Cucurbitaceae, banyak yang menyebutkan buah melon berasal dari Lembah Panas Persia atau daerah Mediterania yang merupakan perbatasan antara Asia Barat dengan Eropa dan Afrika. Dan tanaman ini akhirnya tersebar luas ke Timur Tengah dan ke Eropa. Pada abad ke-14 melon dibawa ke Amerika oleh Colombus dan akhirnya ditanam luas di Colorado, California, dan Texas. Akhirnya melon tersebar ke seluruh penjuru dunia terutama di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia.

Buah melon dimanfaatkan sebagai makanan buah segar dengan kandungan vitamin C yang cukup tinggi. Tanaman melon yang sehat dan berproduksi optimal berasal dari bibit tanaman yang sehat, kuat dan terawat baik pada awalnya. Oleh sebab itu, pembibitan merupakan kunci keberhasilan penanaman melon agar tidak terserang oleh penyakit.

Penyakit yang menyerang tanaman melon dapat menyebabkan kerugian-kerugian, diantaranya adalah mengurangi kuantitas hasil pertanian, mengurangi mutu hasil pertanian, untuk mengelola penyakit diperlukan biaya, kerusakan hasil-hasil tanaman selama masa pasca-panen, dan sering menimbulkan keracunan pada manusia atau hewan yang memakannya.

Perawatan tanaman melon harus dilakukan secara cermat dan tetap selalu waspada. Walau berdasarkan analisis budidaya bahwa agribisnis melon menunjukkan prospek yang menjanjikan, tapi suatu ketika apabila penyemprotan tertunda atau hal-hal sepele lainnya tidak diperhatikan sehingga menyebabkan terserangnya tanaman melon oleh penyakit dan menyebabkan penurunan hasil maka keuntungan yang sudah dapat dibayangkan akan menjadi sirna seketika.

Di era perdagangan menuju pasar bebas, persaingan semakin ketat. Buah yang berkualitas tinggi yang ditawarkan akan layak mendapatkan harga jual yang tinggi pula. Informasi harga pasar dicari sebanyak-banyaknya sebelum panen berlangsung.

Tanaman melon merupakan salah satu tanaman prioritas utama yang perlu mendapatkan perhatian diantara tanaman-tanaman hortikultura. Buah melon mempunyai harga yang relatif lebih tinggi dibanding tanaman hortikultura pada umumnya. Hal ini memberi banyak keuntungan kepada petani atau pengusaha pertanian tanaman melon. Dan ini memungkinkan adanya perbaikan tata perekonomian Indonesia, khususnya dari bidang pertanian.

I.2 TUJUAN

Untuk mengetahui nama dan penyebab penyakit, gambar tanaman terinfeksi dengan gejala spesifik, gejala dan tanda penyakit, cara pengidentifikasian penyakit, siklus penyakit, kondisi yang mendukung perkembangan penyakit, dan rekomendasi strategi pengendalian penyakit bagi komoditi tanaman melon.


BAB II

PEMBAHASAN

Melon ( Cucumis melo L ) merupakan nama buah sekaligus tanaman yang berasal dari famili Cucurbitacea atau labu-labuan. Buahnya biasanya dimakan segar atau dijadikan campuran es buah. Bagian yang dimakan adalah daging buah ( mesokarp ). Tanaman ini banyak tumbuh di daerah tropis. Dalam penanaman melon ini salah satu kendalanya adalah penyakit tanaman yang menyerang tanaman melon.

Secara umum penyakit tanaman dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan patogenitasnya, yaitu penyakit parasitik dan non-parasitik. Penyakit parasitik ialah penyakit yang disebabkan oleh patogen dan bisa menular. Sedangkan penyakit non-parasitik merupakan penyakit yang tidak menular, biasanya disebabkan oleh faktor lingkungan, misalnya cuaca dan suhu serta kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tersebut.

Pada melon ada dua belas penyakit parasitik yaitu layu bakteri ( Erwinia tracheiphila ), embun bulu (Pseudoperonospora cubensis ), busuk pangkal batang ( Mycosphaerella melonis ), busuk leher batang ( Phytium ultimum Trow., Pellicularia filamentosa (Pat.) Rogers, dan Sclerotium rolfsii Sacc. ), layu fusarium ( Fusarium oxysporum f. sp. Melonis ) , kudis ( Cladosporium cucumerinum ),  antraknosa (Colletotrichum lagenarium ), busuk cabang/tangkai (Botryodiplodia theobromae Pat ), busuk buah (Phytophthora sp.),  bercak bakteri (Pseudomonas lachrymans ), embun tepung (Erysipht cichoracearum ), dan penyakit virus. Penyakit yang disebabkan karena defisiensi unsur hara yang utama ada tiga, yaitu defisiensi unsur boron, defisiensi unsur kalium, dan defisiensi unsur magnesium.

PENYAKIT PARASITIK

  1. 1. LAYU BAKTERI (BACTERIAL WILT)

Berbeda dengan semangka yang relatif tahan terhadap penyakit layu bakteri, varietas melon yang ada pada saat ini dikenal rentan terhadap penyakit layu bakteri. Layu bakteri adalah penyakit yang disebabkan oleh patogen Erwinia tracheiphila E.F.Sm., sebuah bakteri gram-negatif dari famili Enterobacteriaceae.

gambar 1 siklus penyakit layu bakteri pada cucurbitacea (Erwinia tracheiphila) sumber : Agrios.2005

Gejala penyakit ini yaitu daun tanaman layu satu per satu, meskipun warnanya tetap hijau,  akhirnya tanaman layu secara keseluruhan. Bakteri masuk ke pembuluh xilem tumbuhan dengan berenang melalui getah pada luka,memperbanyak diri, dan menyebar ke seluruh bagian tanaman. Multiplikasi bakteri dalam xilem, sehingga system efisiensi air menurun. Hal ini merupakan penyebab utama kelayuan.

Gejala layu muncul 6-7 hari setelah infeksi dan tanaman ini biasanya benar-benar layu pada hari kelima belas. Bakteri pada tanaman terinfeksi mati dalam satu atau dua bulan setelah tanaman mengering dan mati (Agrios, 1978). Infeksi hanya terjadi jika bekteri tersebut bisa menembus luka dan mencapai jaringan xilem.

gambar 2 layu bakteri pada melon sumber : Prajnanta F.2004

Tes diagnostik yang baik untuk layu bakteri yaitu dengan memotong bagian tanaman yang terserang, misalnya batang. Lalu tekan antara jari-jari sampai tetesan cairan putih muncul di permukaan bagian yang dipotong. Tarik kedua bagian yang  terpotong kearah yang berlawanan. Tanaman ini positif untuk layu bakteri jika terdapat lendir seperti benang halus yang diperpanjang untuk beberapa sentimeter (Agrios, 1978). Lendir berwarna putih merupakan tanda keberadaan bakteri, yaitu ooze bakteri seperti gambar 1.

gambar 3 lendir bakteri Erwinia tracheiphila

Layu bakteri disebarkan oleh kumbang mentimun bergaris (Acalymma vittata) dan kumbang mentimun (Diabrotica undecimpunctata). Bakteri bertahan di usus mereka. Setiap kumbang terkontaminasi dapat menginfeksi setidaknya tiga atau empat tanaman sehat setelah sekali makan pada tanaman sakit, beberapa kumbang mampu menyebarkan infeksi selama lebih daripada tiga minggu setelah sekali makan tanaman sakit. (Agrios 1978).

Keadaan yang mendukung berkembangnya patogen ini adalah keadaan lahan pertanaman yang drainasenya buruk, serta banyak gulma di sekitarnya. Gulma merupakan sarang bagi serangga vektor.

Ada beberapa cara pengendalian penyakit layu bakteri, yaitu :

  1. Pengaturan drainase, terutama pada musim hujan. Diusahakan tidak ada air yang menggenang di antara bedengan. Di sekitar tanaman melon sebaiknya bersih dari gulma dan kondisi bedengan kering (tidak terlalu lembab).
  2. Pengolahan tanah dilakukan dengan sempurna sehingga dapat mengganggu atau mematikan struktur bertahan patogen ini.
  3. Sebelum ditanami, lahan disterilisasi dengan Basamid G dengan dosis 40 g/m2.
  4. Tindakan preventif, yaitu dengan perlakuan benih. Benih direndam dalam larutan bakterisida Agrimycin (oxytetracycline dan streptomycin sulfate) atau Agrept (streptomycin sulfate) dengan konsentrasi 1,2 g/l dan penyemprotan bakterisida ini pada 20 HST.
  5. Pengendalian yang tidak kalah penting adalah dengan mengendalikan populasi serangga vektor.
  1. 2. EMBUN BULU (DOWNY MILDEW)

Penyakit ini di tahun 1980-an belum merupakan penyakit serius tanaman melon. Namun, akhir-akhir ini menjadi ancaman serius bagi petani melon. Penyakit ini merupakan penyakit yang terpenting pada tanaman labu – labuan dan dapat menyerang pada macam – macam famili ini, seperti: timun, melon, semangka, labu air, labu siam, gambas dan bestru. Penyakit ini disebut embun bulu, karena massa jamur pada bercak nampak seperti bulu.

Gejala terlihat saat pagi hari atau cuaca lembab, yaitu pada daun ditandai dengan adanya bercak yang berwarna kuning sampai coklat berwarna putih sampai hitam seperti bulu. Bercak-bercak berwarna kuning muda yang dibatasi oleh urat-urat daun sehingga terkesan menjadi bercak bersudut. Semakin lama, bercak semakin meluas ke seluruh daun, proses fotosintesis akan tergannggu dan akhirnya  dapat menurunkan produksi, bahakan dapat menggagalkan panen. Apabila tidak dilakukan pengendalian dengan fungisida yang selektif maka tanaman akan mati.

gambar 4 downy mildew pada daun melon sumbet : Prajnanta F.2004

Patogen penyebab penyakit ini adalah jamur Pseudoperonospora cubensis yaitu suatu jamur yang bersifat parasit obligat dari klas Oomycetes. Karena sifatnya yang obligat maka jamur ini tidak dapat hidup dari sisa – sisa tanaman ( saprofit ), sehingga patogen jamur ini akan bertahan dari musim ke musim dari tanaman labu – labuan yang selalu terserang. Adapun penyebaran dan penularan penyakit ini diawali dengan terpencarnya spora jamur dari bagian daun tanaman yang sakit. Spora terpencar oleh angin dan apabila spora ini menempel pada daun tanaman labu – labuan yang sehat maka tanaman sehat akan tertular.

gambar 5. Gambar Pseudoperonospora cubensis perbesaran 400x

Keadaan ini akan parah apabila kondisi cuaca mendukung untuk perkembangan patogen. Kondisi iklim yang mendukung perkembangan patogen yaitu kelembaban 100 % suhu 10 – 20 0 C dengan suhu optimum perkembangan 16 – 22 0 C dan akan berkembang cepat apabila terdapat banyak kabut dan embun.

gambar 6 siklus peyakit downy mildew ( Pseudoperonospora cubensis ) sumber : Agrios.2005

Usaha – usaha pengendalian penyakit Downey mildew dapat dilakukan dengan sanitasi maupun dengan menggunakan fungisida protektif dan sistemik. Sanitasi yaitu dengan membersihkan sisa – sisa tanaman tua dari jenis labu – labuan dan tidak menanam didekat tanaman yang sudah tua. Aplikasi fungisida dapat menggunakan Kocide 77 WP, Antracol, Dithene M-45, Kocide 60 WDG atau fungisida kontak yang lain dengan konsentrasi 2 gram per liter. Apabila dijumpai serangan yang berat sangat dianjurkan untuk menggunakan fungsida sistemik Saromyl 35 SD melalui penyemprotan dengan konsentrasi 0.5 gram per liter.

gambar 7. Embun bulu pada melon.

Hal-hal penting yang mendukung pengendalian yaitu :

  1. Lokasi tanaman dipilih yang bukan bekas atau jauh dari tanaman mentimun.
  2. Tanaman yang terserang parah dimusnahkan dengan cara dicabut dan dibakar agar tidak menular ke tanaman sehat.
  1. 3. BUSUK PANGKAL BATANG (GUMMY STEM BLIGHT)

Penyakit busuk pangkal batang cukup banyak ditemukan di sentra-sentra penanaman melon di Indonesia. Penyakit busuk pangkal batang merupakan penyakit yang disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella melonis (Passerini) Chiu et Walker. Cendawan ini merupakan salah satu cendawan yang paling merusak pada melon. Mycosphaerella melonis (Pass.) WF Chiu & JC Walker (1949), merupakan sinonim dari Didymella bryoniae
(Fuckel) Rehm, (1881). Cendawan ni berasal dari filum Ascomycota yang bersifat nekrotik fakultatif  (hidup sebagian besar pada jaringan mati, tetapi tidak diwajibkan). Penyebaran patogen ini melalui penyebaran konidianya, bisa dengan angin atau percikan air hujan. Penyebarannya juga bisa melalui serangga vektor, yaitu kumbang mentimun (Diabrotica undecimpunctata howardii Barber dan Fabricius vittatum Acalymma) secara nonpersistent. Jika kumbang mentimun ini melukai tanaman yang sehat, maka akan berpeluang terinfeksi penyakit busuk pangkal batang.

gambar 8 siklus penyakit yang disebabkan Mycosphaerella melonis pada tanaman pisang sumber : Agrios.2005

Gejala yang muncul  yaitu pada pangkal batang yang terserang mula-mula seperti tercelup minyak kemudian keluar lendir berwarna merah cokelat. Tahap berikutnya tanaman layu dan mati. Selain menyerang batang, penyakit ini juga merupakan momok utama petani melon apabila menyerang daun. Daun tanaman yang terserang akan mengering, apabila diremas seperti kerupuk dan berbunyi kresek-kresek apabila diterpa angin. Oleh karena itu, di beberapa sentra penanaman melon penyakit ini disebut juga “penyakit kresek”.

gambar 9 busuk pangkal batang melon sumber : Prajnanta F.2004

Keadaan yang mendukung berkembangnya penyakit ini apabila sistem drainase yang buruk, mengakibatkan kelembaban di area pertanaman tinggi, sehingga mendukung pertumbuhan cendawan. Suhu optimal untuk perkembangan penyakit berkisar dari 20 C hingga 28 C. Kelembaban sangat diperlukan untuk pertumbuhan jamur; selama periode curah hujan sering banyak coklat gelap, ostiolate, sebagian pycnidia terbenam atau perithecia hitam diproduksi pada lesi (Chupp dan Sherf, 1960; Punithalingam dan Holliday, 1972; Luepschen 1961; Chiu, 1948).

Pengendalian untuk penyakit busuk pangkal batang yaitu :

  1. Menggunakan mulsa plastik hitam-merah untuk mencegah kelembaban di sekitar pangkal batang dan mencegah luka di perakaran maupun pangkal batang karena penyiangan.
  2. Pada daerah yang sering ditanami melon, sebaiknya dilakukan sterilisasi lahan dengan Basamid G dengan dosis 40 g/m2.
  3. Daun-daun tanaman yang terserang dibersihkan (dirompes) kemudian tanaman disemprot dengan fungisida Derosal 500 SC (Carbendazim) dengan konsentrasi 1-2 ml/l. Pangkal batang yang terserang diolesi dengan fungisida Calixin 750 EC (Tridemorf) dengan konsentrasi 5 ml/l, agar patogen mati dan tidak berpindah ke tanaman lain yang masih sehat.

PEMBAHASAN UMUM

Penyakit yang paling penting dan banyak menjadi masalah serius dalam pertanaman melon ada tiga yaitu : layu bakteri yang disebabkan oleh Erwinia tracheiphila, penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella melonis, dan penyakit embun bulu yang disebabkan oleh Pseudoperonospora cubensis. Diantara ketiga penyakit tersebut yang paling sulit dikendalikan adalah penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella melonis, karena cendawan ini bisa bertahan dan berkembang di jaringan tanaman mati. Jadi saat tidak ada tanaman melon pun cendawan ini masih bisa survive secara saprofit. Pengendalian secara rotasi tanaman baru bisa efektif jika rotasi dilakukan dalam jarak waktu yang cukup lama yaitu 18 bulan. Berbeda dengan patogen penyakit layu bakteri dan patogen penyakit embun bulu yang kurang bisa survive di dalam tanah.

Gejala dan tanda yang ditimbulkan oleh ketiga penyakit ini relatif berbeda. Pada penyakit busuk pangkal batang, ciri utamanya adalah pada pangkal batang tanaman melon mengalami busuk, biasanya terdapat warna putih yang merupakan miseliun cendawan. Pada penyakit embun bulu terdapat kumpulan cendawan berwarna kelabu pada permukaan bawah daun.(Prajnanta,F.2004). Sedangkan pada penyakit layu bakteri gejalanya berupa kelayuan yang tidak terdapat miseliun atau spora cendawan. Tanda peyakit layu bakteri ini adalah adanya lendir putih pada bagian potongan batang tanaman.

Pengendalian secara kimia dari ketiga penyakit tersebut juga berbeda. Untuk penyakit layu bakteri yang digunakan adalah bakterisida Agrimycin. Pestisida ini spesifik untuk mengendalikan bakteri patogen. Penyakit embun bulu, pengendalian secara kimia dengan menggunakan fungisida Previcur N, sedangkan penyakit busuk pangkal batang dengan fungisida Derosal 500 SC. Fungisida hanya untuk pengendalian cendawan patogen. Untuk penyakit non-parasitik penanganannya cukup dengan menambahkan unsur yang kurang, karena penyakit non-parasitik tidak menular.

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari berbagai macam Penyakit yang menyerang melon, penyakit yang  terpenting dan banyak meresahkan petani melon yaitu layu bakteri ( Erwinia tracheiphila ), embun bulu (Pseudoperonospora cubensis ), busuk pangkal batang ( Mycosphaerella melonis ). Ketiga penyakit ini memiliki gejala dan cara pengandalian yang berbeda-beda menurut jenis patogennya. Penyakit yang paling sulit dikendalikan dari ketiga penyakit penting itu yaitu penyakit embun bulu yang disebabkan oleh cendawan Mycosphaerella melonis karena cendawan ini lebih bisa bertahan hidup jika tanaman inang mati, sifatnya yang nekrotik fakultatif membuat cendawan ini bisa bertahan dan berkembang pada jaringan tanaman inang mati.

DAFTAR PUSTAKA

Agrios,George N.2005.Plant Pathology.Fifth Ed.Elsevier Academic Press:USA.

Agrios,George N.1978.Plant Pathology.Second Ed.Elsevier Academic Press:USA.

Prajnanta, Final.2004.Melon,Pemeliharaan Secara Intensif dan Kiat Sukses Beragribisnis.Penebar Swadaya:Jakarta.

Samadi,Budi.2007.Melon,Usaha Tani dan Penanganan Pascapanen.Penerbit Kanisius:Yogyakarta.

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Salah satu faktor utama penyebab timbulnya penyakit pada tanaman adalah kontaminasi mikroorganisme, dapat berupa cendawan maupun bakteri. Meskipun terdapat spesies bakteri tertentu yang menguntungkan bagi tanaman, namun cendawan dan bakteri dapat pula menjadi penyebab timbulnya suatu penyakit yang sangat merugikan bagi tumbuhan.

Untuk mengetahui apakah suatu patogen tersebut yang menjadi penyebab penyakit pada suatu tanaman atau bukan, maka dapat dilakukan suatu metode. Metode yang digunakan Koch melalui beberapa tahap yang selanjutnya dikenal sebagai dalil ”Postulat Koch”. Postulat ini menyatakan bahwa organisme penyebab penyakit haruslah ditemukan di semua kasus yang diperiksa (1), diisolasi dan dikembangbiakkan pada biak murni (2), mampu menimbulkan infeksi seperti kasus awal bahkan setelah beberapa kali pembiakan (3), serta mampu diperoleh dari tanaman yang diinokulasi (diinfeksi dengan sengaja) dan dibiakkan kembali.

Dalam Postulat-postulat Koch disebutkan, untuk menetapkan suatu organisme sebagai penyebab penyakit, maka organisme tersebut harus memenuhi sejumlah syarat.

Pertama, ditemukan pada semua kasus dari penyakit yang telah diperiksa. Kedua, telah diolah dan dipelihara dalam kultur murni (pure culture). Ketiga, mampu membuat infeksi asli (original infection), meskipun sudah beberapa generasi berada dalam kultur. Keempat, dapat diperoleh kembali dari tanaman yang telah diinokulasi dan dapat dikulturkan kembali.

TUJUAN

Tujuan praktikum Postulat Koch ini adalah untuk mempelajari tahapan-tahapan dan teknik yang benar dalam melakukan pengerjaan Postulat Koch.